Pada akhirnya, Despacito hanyalah lagu. Tapi arti nongkrong —duduk bersama, berbagi tawa meski selera berbeda—adalah sesuatu yang tak bisa digantikan oleh algoritma Spotify mana pun.
"Basinya dua tahun lalu, Bang," timpal Si C sambil menyedot es teh hingga keroncongan. Apa yang terjadi setelah Despacito diputar? Perang dingin. Selama 3 menit 47 detik (durasi lagu asli), tidak ada yang berbicara. Si A melipat tangan. Si C memasang headphone sendiri. Si D justru mulai berdansa pelan, membuat posisinya makin tidak populer.
Si B, yang masih merasa benar karena prinsip "ini giliran gue", memutar lagu kedua: Despacito (Remix) featuring Justin Bieber.
Dan tanpa pengumuman resmi, alunan gitar khas Luis Fonsi dan Daddy Yankee pun menggetarkan plastik kursi lipat.
Yang terjadi malam itu adalah . Si B memutus lagu yang belum habis. Trauma masa lalu langsung muncul: kenangan pahit ketika lagu Risalah Hati dipotong di bagian solo gitar, atau ketika Bohemian Rhapsody di-skip pas masuk opera bagian tengah. Analisis Psikologi: Kenapa Despacito Begitu Kontroversial? Despacito bukan lagu biasa. Ia punya kekuatan magis yang langka. Di satu sisi, lagu ini bisa menyatukan orang dari segala usia, dari bocah SD sampai bapak-bapak yang nongkrong sambil memeluk angkot. Iramanya bikin pinggul goyang tanpa izin.
Namun sistem ini rapuh. Sangat rapuh. Sebab tidak ada dua orang yang memiliki selera musik yang sama persis dalam satu geng.